innaroebhasy

memikirkan masa depan

Posted by: innaroebhasy on: March 14, 2009

Pernahkah kalian memikirkan kapan kita siap memutuskan untuk membina keluarga sendiri dan memiliki anak? Umur berapakah kira-kira kalian akan menjalaninya?

Ini bukan kali pertama saya memikirkan hal tersebut. Sebentar lagi, kira-kira 1 tahun 4 bulan (insyaallah tepat waktu), saya akan lulus sarjana dengan gelar ST. Namun, saya masi ragu apa yang akan saya jalani sesaat ketika lulus. Apakah saya akan segera memiliki pekerjaan? Ataukah saya melanjutkan S2 lalu bekerja? Ataukah saya akan menikah?

Saya pernah mendengar dari orang-orang sekitar saya. Katanya, lulusan S1 itu lebih banyak dicari daripada lulusan S2. Memang lulusan S2 itu adalah gelar yang lebih tinggi dibanding S1. Namun, gelar sarjana itu diperoleh dari hasil pengetahuan umum dari berbagai jurusan. Misalnya jurusan saya, jurusan teknik sipil (sekalian promosi.. hehe). Teknik sipil itu tidak hanya belajar bagaimana membangun rumah dsb. Tetapi, teknik sipil itu memiliki 5 kelompok keahlian, yaitu struktur, geoteknik, sistem transportasi jalan raya, teknik sumber daya air, dan manajemen dan rekayasa konstruksi. Kelompok keahlian inilah yg menjadi fokus kita jika hendak mengambil S2. Lulusan sarjana diwajibkan mengerti dan memahami kelima kelompok keahlian tersebut. Sedangkan S2, kita akan cenderung lebih menyukai dan akan memilih pekerjaan yang sesuai fokus kita. Di sinilah keuntungannya kita bekerja lalu melanjutkan S2. Jika ada dua orang pelamar pekerjaan, yang satu lulusan sarjana dan yang lainnya lulusan S2. Perusahaan akan cenderung memilih pelamar lulusan S1.

Di sisi lain, orang tua saya -khususnya papa saya- menghendaki anak-anaknya untuk sekolah minimal S2. Karena, kata beliau, gelar sarjana itu hanya gelar undergraduated bagi gelar di luar negeri. Jadi saran papa saya, kami (anak-anaknya) harus sekolah hingga S2, minimal. Namun, yang menjadi pemikiran selanjutnya adalah kapan saya akan membina keluarga sendiri? mungkin itu hal sepele yang tidak harus dipikirkan sekarang. Pasti orang-orang seumur dengan saya akan berpikiran ‘ngapain saya mikirin hal itu sekarang? Toh saya belum lulus sarjana. Untuk sekarang, yang lebih penting adalah lulus sarjana’. Saya yakin, banyak sekali yang beranggapan demikian. Tapi bagi saya, itu semua kembali ke pribadi masing-masing. Tiap orang memiliki pemikiran yang berbeda-beda.

Misalnya, saya lulus sarjana ketika umur saya 22tahun. lalu terlintas dipikiran saya bahwa saya harus kerja dan harus melanjutkan sekolah S2. Namun, permasalahan lain yang muncul adalah apakah saya kerja dahulu atau kuliah S2 dahulu? Misalkan saya memutuskan saya akan bekerja 2 tahun dahulu (sambil menunggu promosi beasiswa S2 dari kantor) lalu melanjutkan S2 yang biasanya 2 tahun. Kira-kira saya akan menikah umur 26 tahun. Bagi seorang wanita, umur 26 tahun sudah cukup berumur jika belum menikah. Menurut saya begitu, tidak tahu dengan wanita-wanita lainnya.

Jika saya memilih saya akan bekerja selama 2 tahun lalu menikah dan melanjutkan S2. Kurang lebih saya akan berumur 24 tahun. Namun, bagaimana jika dalam perjalanan S2, saya dikaruniai seorang anak? Bagaimana nasib anak saya kelak? Tidak mungkin saya menunda kehamilan hanya karena saya sedang sekolah S2 lagi. Hamil merupakan satu hal penting yang ditunggu-tunggu sepasang suami-istri, jadi tidak mungkin jika saya harus menundanya.

Mungkin saya akan menjalani semua ini berjalan apa adanya. Hanya Allah yang dapat menentukan mana yang terbaik untuk ummat-Nya. Ini semua hanya pandangan saya ke depannya. Bagaimana dengan kalian?

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.